Lompat ke konten
Beranda » Mengapa orang menyimpulkan saya “play victim”?

Mengapa orang menyimpulkan saya “play victim”?

Perilaku kita sehari-hari yang konsisten tersampaikan dan diamati oleh orang lain, dan itu bisa dijadikan informasi bagi orang untuk kemudian mengambil keputusan berdasarkan hal itu, terhadap kita. Jadi, jika kita dinilai sebagai orang yang “begini” atau “begitu”, yang perlu dilihat dulu adalah diri kita. Bagaimana kita mengkomunikasikan diri kita selama ini dalam pergaulan sosial. Label “play victim” bisa jadi merupakan hasil dari proses orang lain mengamati pola komunikasi kita selama ini yang mengarah ke sana, contohnya; “mengapa saya?”,  “Saya kan hanya seorang…..ya pasti tidak mampu lah”, “mereka yang mulai, saya hanya kena imbasnya “, “kalo mereka melakukan ini dengan benar, saya pasti bisa melakukan itu”, “coba lihat ini, saya sudah susah payah membayar, ternyata pelayanannya buruk begini”….dan masih banyak contoh lain. Intinya, kita selalu menempatkan diri kita sebagai “victim”. Jika pola kita komunikasi cenderung demikian, khawatirnya, kita lalu secara tidak sadar akan selalu mencari “orang lain yang patut disalahkan karena sudah menyebabkan saya menjadi victim”. Jika pola semacam ini tidak segera kita hentikan, maka konflik pasti akan terus membesar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *