Percakapan memang sebaiknya seimbang, artinya win-win atau menang-menang. Jika ada satu pihak yang maunya menang terus (alias tidak mau kalah), pihak yang lain bisa mengalah atau sekalian menjadikan hal ini peluang mengasah keterampilan mendengarkan dan dialog. Kita akan mampu “mengarahkan” percakapan ke arah positif jika kita menguasai keterampilan ini.
Caranya, justru dengan memberikan ruang aman dan nyaman bagi orang lain berbicara. Ketika orang merasa dihargai lewat cara ini, maka dia akan lebih terbuka menerima pesan kita, termasuk “arah percakapan” yang kita lakukan, seringkali tanpa mereka menyadarinya.
Prinsipnya, kita memberi dahulu, baru orang lain akan melakukan hal yang senada. Orang akan cenderung mendominasi, mempertahankan pendapatnya mati-matian, selalu ingin menang, justru karena dia merasa “ ditantang” dan respon kita sebenarnya membuatnya tidak nyaman, tidak percaya, dan perasaan negatif lainnya, akhirnya mendorong dia kemudian menjadi dominan dan bersikukuh.
Lihat juga artikel lainnya :
- Kenapa Orang Terlihat ‘Play Victim’ – Penjelasan tentang bagaimana perilaku suka terlihat sebagai korban bisa terbaca oleh orang lain.
- Guru dan Komunikasi Efektif – Peran penting komunikasi yang baik untuk guru dalam mendidik dan membangun hubungan dengan murid.
- Peran Jasa dan Karyawan IT dalam Komunikasi – Mengapa pekerja IT perlu dikomunikasikan dengan jelas ke semua pihak meskipun bekerja di belakang layar.
